Pada suatu ketika, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Monty. Ayahnya hanyalah seorang pelatih kuda miskinyg kerjanya melatih kuda-kuda di tiap peternakan. Agar dapat mencukupi keperluan keluarga, ayahnya berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari satu peternakan ke peternakan lainnya. Sehingga ini mengakibatkan sang anak, si Monty, juga sering berpindah-pindah mengikuti pekerjaan ayahnya.
Singkat cerita, ketika Monty sekolah, dia mendapat tugas dari guru gambarnya di sekolah untuk membuat suatu karangan mengenai apa yang dia inginkan. Kemudian pada malam harinya, dia pun mengerjakantugas karangannya itu menjadi tujuh halaman. Monty membuat karangan yang sangat terperinci mengenai peternakan kuda. Sehingga hal itu sangat menakjubkan untuk anak seusia dia.
Monty beralasan kalau impiannya itu terobsesi oleh sang ayah yang menajdi pelatih kuda. Dalam kisahnya, Monty sangat ingin memiliki peternakan kuda seluas 200 hektar yang disana terdapat rumah seluas 4000 m2. Pada tengah-tengah peternakan kuda tersebut, terdapat trek lintasan kuda tempat area bertanding. Selain itu, ada juga kandang kuda serta rumahnya yang digambar dengan jelas dan detail tanpa terlewatkan satu hal sekecil apapun.
Keesokan harinya, Monty menyerahkan hasil karangan tersebut kepada gurunya. Dua hari kemudian semua karangan dikembalikan oleh sang guru kepada semua murid. Namun, Monty sangat kecewa setelah melihat hasil nilai karangannya. Ya, Monty mendapatkan nilai F !! serta terdapat sebuah catatan dari gurunya. “Mohon bertemu saya setelah kelas selesai.”. Demikian catatan yang terdapat pada karangan Monty.
Pada saat itu hanya Monty yang mendapatkan nilai F di kelas. Ketika bertemu gurunya, Monty langsung protes dengan nilai yang didapatnya. Tapi, justru sang guru yang balik menyalahkan Monty. Guru berkata, “semua impian dalam karanganmu itu tidak masuk akal. Semuanya terlalu besar untuk anak seusia kamu. Lagipula kamu hanyalah seorang anak dari pelatih kuda yang miskin. Mana mungkin bisa mewujudkan itu semua? Impianmu itu memerlukan biaya yang sangat besar, kamu juga tidak memiliki latar belakang, bahkan sekarang pun kamu tidak menyiapkan sedikitpun untuk membangunnya. Mana mungkin itu semua bisa terjadi? Impossible! “.
Guru Monty kembali meneruskan pembicaraannya, “Monty, kamu saya brikan kesempatan untuk memperbaiki karanganmu ini. Apabila kamu membuat sesuatu yang lebih mausk akal, nilaimu akan saya ubah, Monty…”. Kemudian Monty pulang dna berpikir apakah dia ahrus mengubah semua karangannya. Karena pembicaraan dengan sang guru telah benar-benar membuat dia putus harapan untuk memiliki impian sebagaimana yang tergambar pada karangannya.
Monty pun kemudian bertanya kepada sang ayah dan emnceritakan semua kejadian siang tadi. Sang ayah dengan bijaksana hanay berkata, “Monty, itu semua terserah kamu. Karena ini semua menyangkut masa depanmu, hanya engkau sendirilah yang bisa menentukan arah jalan hidupmu.”
Singkat cerita, setelah satu minggu berlalu, akhirnya Monty mengumpulkan karangannya tanpa mengubah sedikitpun gambarnya. Monty kecil hanya menulis, “guru, engkau boleh menyimpan nilai F tersebut, tapi aku akan tetap menyimpan impian ini.”. monty tidak peduli dengan apa yang telah dikatakan oleh gurunya itu sebelumnya.
Setelah puluhan tahun berlalu, kini Monty kecil sudah menjadi besar. Dia bercerita kepada teman-temannya, “Saya bercerita seperti ini kepada kalian karena guru saya tersebut duduk di lahan peternakan kuda saya seluas 200 hektar dan masuk ke dalam rumah saya seluas 4000 m2.”
Hingga saat itu, Monty masih menyimpan karangannya bahkan membingkainya dan tetap bertuliskan F untuk nilainya. Dua musim panas yang lalu, guru yang memberinya nilai F tersebut datang kepada Monty bersama 30 anak kecil lainnya untuk melihat peternakan kuda Monty.









0 komentar:
Posting Komentar