Photobucket
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

perhitungan pada hari perhitungan

Kisah berikut ini bukanlah kisah dari ulama besar. Kisah ini berasal dari orang biasa, namun mengandung pelajaran berharga agar jangan kita sibuk dengan kehidupan duniawi lantas melupakan hari perhitungan.

♥ jangan bersedih, ukhty... ♥

Saudariku ….
Hapuslah air matamu
Hadapi hidup ini dengan tabah
Serahkan semua urusan kepadaNya

Saudariku ….
Hapuslah air matamu
Tabahkanlah hatimu
Cobalah lihat di sana ….
Seorang ibu sendirian karena suaminya meninggal dunia
Seorang anak yatim kehilangan ayahnya karena musibah yang melanda
Seorang istri yang ditinggal suami karena perang

Saudariku ….
Senyumlah ….
Mari kita mencari ridhoNya
Mari kita raih hidup bahagia dengan doa dan usaha
Mari kita berjuang dengan bekal iman di dada
Mari kita tantang matahari dengan tekad membaja
Mari kita hadapi hidup
Seperti semut hitam di malam gelap gulita
Mencari makan untuk anak-anaknya
Marilah …. saudariku
Hapuslah air matamu ….
Senyumlah …. !

Saudariku ….
Janganlah bersedih
Cobalah lihat di sana ….
Betapa banyak anak-anak gadis
Tersia-sia hidupnya, karena salah mengartikan cinta
Memberikan segalanya pada yang dicintai
Meninggalkan bekas yang tak mudah dihapus sejarah hidupnya

Saudariku ….
Coba lihat di sana ….
Gadis gadis yang terlena karena cinta membara
Melupakan sesuatu yang mesti dijaga
Meninggalkan luka yang tak mudah dihapus tinta sejarah hidupnya

Saudariku ….
Senyumlah ….
Di balik senyummu ada karuniaNya
Di balik senyummu ada bahagia
Di balik senyummu ada sedekah
Di balik senyummu ada keikhlasan
Di balik senyummu ada istana kerinduan
Bukan untuk menangisinya
Bukan untuk menghinanya
Bukan untuk mentertawakannya
Tapi menjadi bahan pembelajaran
Untuk menatap hidup agar lebih baik dari kemarin
Untuk bersyukur kepadaNya bila memdapat karunia
Dan bersabar bila mendapat cobaan !

Saudariku ….
Tersenyumlah ….
Doaku menyertaimu … !

(era Muslim)

♥ Akhwat tangguh, Jangan Mudah Mengeluh ♥

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. (Al-Qur’an Surah Al-Ma’aarij 70: 19-21)

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Al-Qur’an Surat Al-Hadid 57: 22-23)

Wahai ukhty yang manis , janganlah kita mudah untuk mengeluh. Terimalah segala sesuatu dengan lapang karena Allah. Semoga Allah membantu menguatkan diri kita untuk menjalani kehidupan dengan tegar, penuh keberanian, layaknya seorang kesatria. Sehingga apapun yang hadir, susah atau senang, nikmat atau menyakitkan, semua akan diterima dengan hati yang lapang dan senyuman. Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. berhati-hatilah dengan lisan kita, karena sebuah kata yang mungkin tak kita sadari tiba-tiba keluar, sebuah kata keluhan yang mungkin sebenarnya tak berniat untuk mengeluh. Akhwat tangguh dilarang untuk mengeluh. Hamasah Always , Semangat never Ending. Daripada mengeluh, mari berlomba-lomba dalam kebaikan “Fastabiqul Khairat” semoga Allah meneguhkan disetiap langkah-langkah kita.

Teringat kata-kata dari seorang murobbi saya, “De, hati-hati dengan kata aduh, hufth, apalagi ya?, seorang akhwat jangan mudah untuk mengeluh dalam berjuang, adanya kata semangat untuk melangkah, jadi kalau ingin mengeluarkan kata-kata itu, disimpan lagi aja , ganti dengan HAMASAH Bismilah yakin Bisa InsyaAllah “

“ saya laksana sebutir pasir yang mudah tersapu jika tertiup angin, teguhkanlah keimanan saya ya Allah untuk selalu mendekat pada Mu, sehingga apa pun yang saya lakukan adalah semata-mata untuk beribadah pada Mu dan semoga hari ini menjadi lebih baik dari hari kemarin ”

Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.

Sang ‘Ghuroba’ Remaja

[ Diceritakan oleh seorang remaja muslimah yang tinggal di lingkungan non Islami ].
Kisah ini menjadi pelajaran bagi para orang tua agar berusaha sekuat tenaga untuk memasukkan anak-anaknya pada lingkungan sunnah. Mulai dari tempat tinggal hingga sekolah.

“Islam mulai muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awal munculnya maka beruntunglah orang-orang asing itu”. [Hadits Muslim no. 145]

Saya tidak pernah merasa aneh saat masih bersekolah di TK -saya pikir saya masih terlalu kecil untuk memahaminya. Namun tak sampai di kelas satu, saya mulai merasakan perbedaan. Ketika teman-teman saya berada di kelas musik, saya tetap bertahan di kelas kami. Saya duduk di meja saya sambil menatap kertas kepunyaan guru, bertanya-tanya mengapa saya tidak bersama dengan yang lain. Ya, saya paham bahwa musik itu haram… tapi mengapa “aku” menjadi berbeda dengan yang lain?

Saya bertanya dengan pertanyaan itu berulang-ulang. Kenapa AKU? Sebulan kemudian saya merasa sedih melihat teman-teman sekolah berjalan berbaris dengan bangga di dalam ruangan hingga ke luar -dalam kostum labu, kucing, penyihir, hantu- membenci fakta bahwa aku seorang muslim yang harus berbeda. Natal, Thanksgiving, Valentine, dan Paskah tidak ada yang berbeda. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun, semuanya sama.

Di rumah, setelah sekolah, saat bersama-sama dengan teman-teman Muslim di kota Iowan, perasaan itu akan hilang, dan aku berpikir pada diri sendiri bahwa menjadi seorang muslim adalah hal terbaik dalam hidup. Bukankah ayah saya menceritakan kisah Nabi Ibrahim (‘alaihissalam) tadi malam? Orang yang pada awalnya hanya sendirian dengan keislamannya. Hingga ia dapat mengenal Allah. Dan bagaimana dengan kisah-kisa hebat, Umar yang bijaksana, baik hati, lembut, Abu Bakar yang jujur, takut pada Allah, Bilal yang berani. (Dibandingkan) dengan mereka yang Santa Clause, St. Valentines, dan kelinci-kelinci Paskah?

Mereka berterima kasih melalui Thanksgiving kepada Tuhan mereka, (sedangkan) kita (berterima kasih) sepanjang tahun. Tapi begitu di kelas, dikelilingi oleh teman-teman saya sesama siswa, saat mereka berceloteh dengan semangat tentang apa yang mereka punya untuk Natal, atau kemana mereka pergi saat Paskah, kisah-kisah indah itu lenyap diganti dengan kebencian pahit terhadap agama saya.

Saat kelas lima, keadaan menjadi lebih baik. Saya menjadi lebih tua, mengerti lebih sedikit, tapi perasaan itu selalu ada. Khususnya menguat ketika aku harus memulangkan undangan pesta tidur atau pesta ulang tahun dengan sopan dengan alasan aku sangat sibuk di tanggal tersebut. Atau ketika, kadang-kadang pada akhir musim semi, teman sekelas akan bertanya-tanya mengapa aku tidak pernah memakai celana pendek atau rok mini.

Hingga sekitar kelas empat, teman-temanku kebanyakan laki-laki. Sejak awal saya telah belajar, jika tak benar-benar cocok maka akan susah untuk menjadi dekat dengan anak-anak wanita. Mereka selalu membentuk kelompok, terutama di awal-awal tahun, “kelompok khusus”. Dengan teman-teman anak lelaki, tak sama. Diam-diam aku berpikir bahwa umumnya gadis-gadis itu sangat membosankan dan anak laki-laki selalu lebih menarik. Tapi saat mereka di kelas 9 dan 10, anak-anak laki-laki mulai tertarik dengan kelompok anak-anak perempuan, begitu juga sebaliknya. Sehingga, sejak saat itu, saya benar-benar di luar kelompok. Saya cocok dengan tidak bergabung pada keduanya.

Aku mulai menggunakan jilbab pada saat itu. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, itu adalah salah satu hal terhormat yang saya lakukan. Aku pergi ke sekolah yang sama sejak kelas satu sehingga orang-orang telah mengenal saya. Tidak ada kejutan karena telah terbiasa melihat ibu saya yang datang dan pergi dengan menggunakan jilbab utuh dan menganggap bahwa suatu hari nanti saya juga akan menggunakannya. Hal itu menjadi mudah bagi saya karena saya tidak terlalu perhatian terhadap penampilan, berpakaian, rambut seperti halnya anak-anak remaja di awal usia 10 dan 11 tahun.

Selama musim panas sebelum kelas 6, kami pindah ke negara lain. Orang tua saya memutuskan untuk menyekolahkan saya di rumah (home schooling), tingkat pendidikan di negara ini tidak terlalu tinggi. Alhamdulillah, karena itu adalah salah satu pilihan terbaik yang pernah mereka buat. Hal ini memberikan saya satu tahun penuh untuk berpikir tentang saya sendiri dan alasan mengapa saya berada di bumi ini. Saya memiliki lebih banyak kesadaran dan pemahaman pada agama dan diri saya sendiri saat kelas tujuh, ketika karena tugas ayah saya, kami harus pindah lagi ke kota lain dan saya dimasukkan kembali ke sekolah umum. Kali ini aku ditempatkan di sebuah sekolah yang didominasi bangsa Afrika-Amerika (memiliki program bahasa, Bahasa Arab merupakan salah satu yang diajarkan), benar-benar berbeda dari sekolah “kulit putih” yang telah saya masuki selama ini. Alhamdulillaah, perubahan itu menjadi lebih baik – mereka lebih banyak menerima kaum minoritas dan perbedaan di sekolah itu. Itu bukanlah satu-satunya “perubahan untuk yang lebih baik”. Kali ini masalahku bukanlah membenci mengapa aku menjadi beda. Sekarang ada perubahan dalam diriku. Aku benci dengan cara-cara teman sekelasku bertindak, hal-hal yang mereka bicarakan, cara mereka berpakaian. Intinya adalah, aku benci dengan kaum kufaar tersebut. Akhirnya, aku mencintai menjadi berbeda.

Tahun tersebut merupakan tahun terakhir saya di sekolah umum. Orang tua saya memutuskan untuk memberikan saya home schooling, akhirnya menyadari sepenuhnya dampak dari sekolah umum. “Aku tak perlu menjadi berbeda lagi.” Aku ingat bagaimana aku begitu bersemangat menulis dalam jurnal saat di awal kelas delapan. Sedikitnya yang kutahu.

Tahun berikutnya kami pindah ke kota dengan komunitas Muslim cukup besar. Aku benar-benar senang, berpikir bahwa sekarang, sejak sekian lama, saya akan berada di tempat yang seharusnya saya berada. Saya merasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Dan … tapi hanya sebagian, sedikit kurang.
Dari sekarang hingga nanti, saat saya bercerita dengan Muslim lainnya tentang pelarangan musik, atau mengapa kita tidak boleh pergi ke bioskop, atau mengapa lebih baik menggunakan jilbab dibandingkan hanya memakai rok panjang dan kemeja, atau mengapa kita harus mengikuti sunnah Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) tidak hanya Al-Qur’an, dan tiba-tiba aku mendapatkan pang, “Aku begitu berbeda, begitu aneh!

Mengapa??” Kadang-kadang, ketika aku sedang duduk bersama sekelompok teman-teman muslimah seumuranku lainnya, berbicara, mungkin tertawa dan bercanda. Ketika percakapan, entah bagaimana, tiba-tiba berubah menjadi Will Smith, Madonna, tips make-up terbaru dalam (majalah) Seventeen. Tiba-tiba udara dingin seakan-akan mengalir dalam tubuh saya, saya merasa seolah-olah mereka semua satu dan aku berada di sisi lain. “Sekarang aku berada di kalangan umat Islam tapi aku masih menjadi orang luar,” pikirku saat melihat mereka.

Tapi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya ketika aku membenci siapa aku karena aku berbeda. Sekarang aku tersenyum dan menemukan kekuatan dalam mengingat kata-kata Rasulullah (shalallahu ‘alaihi wa sallam).

“Islam mulai muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awal munculnya maka beruntunglah orang-orang asing itu”. [Hadits Muslim no. 145]

-Anonymous 16 tahun Muslim, TX
- shalihah.com -

Sumber asli So Strange!

untuk antum, sahabatku

Sahabatku,

Ku berikan namamu "Teman Sejati"..
"Selama ini kumencari-cari teman yang sejati buat menemani perjuangan ini".
Oh, siapa sangka hadirmu membawa diri ini mengenali apa itu sebenarnya ukhuwah.Kita berjauhan, namun Allah dekatkan hati kita. Cerita mu adalah ceritaku dan begitu juga sebaliknya. Tatkala diriku bersedih, kau datang memberi semangat buatku. Nasihatmu selalu menemaniku. Ya, karena itu kau umpama cermin bagiku.. Sering kau katakan bahwa diriku lebih baik darimu.. namun, hakikatnya diriku banyak kekurangan malah sedikit kelebihannya wahai sahabat. Tapi, dalam kelebihan dan kekurangan itu kita tetap bersama karena bukankah persahabatan ini untuk saling melengkapkan?

Sahabatku,

Ku tahu hatimu resah, tatkala dirimu meminta nasihat dariku. Dalam hidup ini, akan hadir saat2 dimana kita perlu membuat pilihan. Namun kita sering khawatir, adakah pilihan itu yang terbaik buat diri kita. Sukarnya membuat sesuatu keputusan, terutamanya yang bakal menentu perjalanan kehidupan kita. FirmanNya yang bermaksud:

"..Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagi kamu. Allah Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah:ayat 216)

Ya, "Wallahu yaklam, wa antum taklam." Jadi kepada siapa lagi harus kita sandarkan, melainkan pada Dia yang menciptakan kita! Dia jua yang telah menetapkan takdir buat kita di Lauh Mahfuznya dan takdir Allah itu begitu sempurna buat hambaNya.
"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang di janjikan kepadamu." (Adz-Dzariyat:ayat 22)


Malah Allah telah menetapkan beberapa panduan untuk kita pilih.

"Dinikahi seseorang itu karena empat perkara, harta, kecantikan, keturunan dan agama. Maka pilihlah yang beragama, niscaya beruntung diri."

"Pesan Abu Hurairah r.a. kepada puterinya: �Pilihlah bakal suamimu orang yang bertaqwa karena jika dia suka kepadamu, dia mendoakan kebaikan untukmu. Jika dia tidak menyenangimu, dia tidak akan berlaku zalim terhadapmu�

Teruskan doamu sahabat, memohon belas kasihan dariNya agar ditunjukkan jalan yang benar. Sahabatmu ini hanya boleh memberi nasihat sekadar mampu karena segalanya adalah terletak padamu.. hasil dari petunjuk Allah buatmu. Adakah yang hadir itu benar, adakah masa yang tiba itu sesuai, adakah diri bersedia memikul sebuah tanggungjawab ataupun semua ini sekadar ujian dariNya buat diri? Pasrahkan hatimu memohon padaNya kerana mereka yang berdoa dengan ikhlas akan dimakbulkan doanya. InsyaAllah. FirmanNya yang bermaksud:

"Dan Tuhanku berfirman, "Berdoalah kepadaku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.." (Al-Mukmin:ayat 60)

Sahabatku,

Saat ini, mari kita sama2 terus berusaha.. berusaha berdoa dan memperbaiki diri. Melengkapkan diri dengan ILMU, untuk menjadi amal kelak. Bukankah kita yakin pada janjiNya sebagaimana dalam firmanNya yang bermaksud:

"Perempuan-perempuan jahat untuk laki-laki jahat,laki-laki Jahat untuk perempuan-perempuan jahat pula,perempuan-perempuan baik untuk laki-laki baik,laki-laki baik untuk perempuan-perempuan baik pula. (An-Nur:ayat 26)


Sekiranya kita melakukan sesuatu karena Allah, pasti akan ada jalanNya. Jadi sandarkanlah jua urusan ini karena Allah pasti hatimu akan lebih tenang. Bukankah kita ingin menyahut tuntutan ini karena ALLAH dan RASULNYA? Ya, itu matlamat utama kita. Menyambung sebuah kesinambungan dakwah agar generasi kita menjadi rantai2 perjuangan. Menjadi sayap kiri perjuangan, dan menjadi ummi buat bakal rijaluddin. Maka, mari kita pelihara diri sebaik2nya dan kembali kepada syariat Islam. Usah terpedaya dengan hiasan2 dan bunga-bunga dari syaitan yang selalu berusaha menjatuhkan sebuah iman dalam hati.

"Perempuan tidak perlu mendekati lelaki untuk mengetahui siapakah yang Allah takdirkan untuk dia. Yang Allah takdirkan untuk kita akan tetap datang walaupun kita mengelaknya. Peliharalah maruah agar dengannya kita boleh menuntut janji bahawa lelaki yang baik adalah untuk perempuan yang baik. Begitu juga sebaliknya."

Sebuah doa, sebuah pengharapan.. diberikan HANYA padaNya.. Moga dirimu bertemu kebaikan.. InsyaAllah..

"Ya Allah, aku memohon akan Engkau memilihkan mana yang baik menurut Engkau Ya Allah. Aku memohon memberikan kepastian dengan ketentuanMu dan aku memohon dengan kemurahan Engkau yang Maha Agung, kerana sesungguhnya Engkau Tuhan yang Maha Berkuasa, sedang aku tidak tahu, dan Engkaulah Tuhan yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi.

Ya Allah, jika Engkau mengetahui perkara ini baik bagiku, bagi agamaku, bagi penghidupanku, dan baik pula akibatnya bagiku, mudahkanlah ia bagiku dan berikanlah keberkatan bagiku di dalamnya.

Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahawa perkara ini tidak baik bagiku, bagi agamaku dan penghidupanku, dan tidak baik akibatnya bagiku maka jauhkanlah hal ini daripadaku dan jauhkanlah aku daripadanya.

Berilah kebaikan di mana saja aku berada dan jadikanlah aku orang yang ridho atas anugerahMu. Amiin."



~Mengejar sebuah impian untuk mendapat Cinta dan RidhoNya dalam setiap urusan. Membina harapan untuk menjadi seorang mujahidah..
"Ya Allah, peliharalah kami sebagaimana Engkau memelihara wanita-wanita solehah. Amiin.. Allahumma amiin.."~
dikutip dr : Mira A

Jadikan aku seperti yang kau inginkan

Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang
petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu
lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu.

Dia berkata kepada batang bambu," Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk
menjadi pipa saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?"

Batang bambu menjawabnya, "Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau,
Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa
saluran air itu."

Sang petani menjawab, "Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau
dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat
melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau
sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di
dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah
selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air
untuk mengairi sawahku sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh dengan subur."

Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam..... , kemudian dia berkata kepada
petani, "Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku.
Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih
sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini, dan pasti tak
tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang
sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu,
Tuan?"

Petani menjawab batang bambu itu, " Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui
semua itu, karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari
semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah."

Akhirnya batang bambu itu menyerah, "Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna
bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki."

Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya
menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran
air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah
banyak.

Pernahkah kita berpikir bahwa dengan masalah yang datang silih berganti tak
habis-habisnya, mungkin Allah sedang memproses kita untuk menjadi indah di
hadapan-NYA? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa, ALLAH sedang
membuat kita sempurna untuk di pakai menjadi penyalur berkat. DIA sedang
membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-NYA. Tapi
jangan kuatir, kita pasti kuat karena ALLAH tak akan memberikan beban yang tak
mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak ALLAH, membiarkan DIA
bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna
bagi-NYA?

Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, " Ini aku ALLAH, perbuatlah sesuai
dengan yang KAU kehendaki."

"semoga Allah memberkahi setiap langkah kita"

sumber : echo budi
Waktu kamu berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu ... sebagai balasannya ... kau menangis sepanjang malam.

Waktu kamu berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan ..
sebagai balasannya ... kamu kabur waktu dia memanggilmu

Waktu kamu berumur 3 tahun, dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang ... sebagai balasannya ... kamu buang piring berisi makananmu ke lantai

Waktu kamu berumur 4 tahun, dia memberimu pensil warna ... sebagai balasannya ... kamu corat coret tembok rumah dan meja makan

Waktu kamu berumur 5 tahun, dia membelikanmu baju-baju mahal dan indah..sebagai balasannya ... kamu memakainya bermain di kubangan lumpur

Waktu berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah ... sebagai balasannya ... kamu berteriak "NGGAK MAU ...!"

Waktu berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola ... sebagai balasannya ..kamu melemparkan bola ke jendela tetangga

Waktu berumur 8 tahun, dia memberimu es krim ... sebagai balasann ya ..kamu tumpahkan dan mengotori seluruh bajumu

Waktu kamu berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus-kursusmu ..sebagai balasannya ... kamu sering bolos dan sama sekali nggak mau belajar

Waktu kamu berumur 10 tahun, dia mengantarmu kemana saja, dari kolam renang sampai pesta ulang tahun ... sebagai balasannya ... kamu melompat keluar mobil tanpa memberi salam

Waktu kamu berumur 11 tahun, dia mengantar kamu dan teman-teman kamu kebioskop ... sebagai balasannya ... kamu minta dia duduk di barisan lain

Waktu kamu berumur 12 tahun, dia melarangmu melihat acara tv khusus untuk orang dewasa ... sebagai balasannya ... kamu tunggu sampai dia keluar rumah

Waktu kamu berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut karena sudah waktunya ..sebagai balasannya.. kamu bilang dia tidak tahu mode

Waktu kamu berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kemahmu selama liburan ... sebagai balasannya ... kamu nggak pernah menelponnya.

Waktu kamu berumur 15 tahun, pulang kerja dia ingin memelukmu ...
sebagai balasannya ... kamu kunci pintu kamarmu

Waktu kamu berumur 16 tahun, dia mengajari kamu mengemudi mobil ...sebagai balasannya ... kamu pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa mempedulikan kepentingannya

Waktu kamu berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telpon yang penting .. sebagai balasannya ... kamu pakai telpon nonstop semalaman,

Waktu kamu berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kamu lulus SMA.. sebagai balasannya ... kamu berpesta dengan teman-temanmu sampai pagi

Waktu kamu berumur 19 tahun, dia membayar semua kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertana ... sebagai balasannya ... kamu minta diturunkan jauh dari pintu gerbang biar nggak malu sama temen-temen.

Waktu kamu berumur 20 tahun, dia bertanya "Darimana saja seharian ini?".. sebagai balasannya ... kamu menjawab "Ah, cerewe t amat sih, pengen tahu urusan orang."

Waktu kamu berumur 21 tahun, dia menyarankanmu satu pekerjaan bagus untuk karier masa depanmu ... sebagai balasannya ... kamu bilang "Aku nggak mau seperti kamu."

Waktu kamu berumur 22 tahun, dia memelukmu dan haru waktu kamu lulus perguruan tinggi ... sebagai balasanmu ..... kamu nanya kapan kamu bisa main ke luar negeri

Waktu kamu berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu ... sebagai balasannya ... kamu ceritain ke temanmu betapa jeleknya furniture itu

Waktu kamu berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencana di masa depan ..... sebagai balasannya ... kamu mengeluh "Aduh gimana sih kok bertanya seperti itu."

Waktu kamu berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai pernikahanmu ..
sebagai balasannya ... kamu pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

Waktu kamu berumur 30 tahun, dia memberimu nasehat bagaimana merawat bayimu ... sebagai balasannya ... kamu katakan "Sekarang jamannya sudah beda."

Waktu kamu berumur 40 tahun, dia menelponmu untuk memberitahu pesta salah satu saudara dekatmu ... sebagai balasannya kamu jawab "Aku sibuk sekali, nggak ada waktu."

Waktu kamu berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu ... sebagai balasannya ... kamu baca tentang pengaruh negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya

dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang ... dan tiba-tiba kamu teringat semua yang belum pernah kamu lakukan, ... dan itu menghantam HATIMU bagaikan pukulan godam

MAKA ..
JIKA ORANGTUAMU MASIH ADA .... BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN PERHATIAN LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI

JIKA ORANG TUAMU SUDAH TIADA ... INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TELAH DIBERIKANNYA DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU.

Post by Gibran Bogel Galuh (catatan)
Fromi : collection inspiration

Mengenang Jasa Ibunda

Wahai Ibunda, entah kenapa tiba-tiba memoriku kembali ke masa silam. Aku teringat tatkala dulu engkau berbagi cerita bersama kami, ketika engkau menyemangati kami, ketika seringkali airmata mengalir dari pipimu yang halus, ketika shubuh engkau membangunkan kami untuk sembahyang memuja sang Al-Khalik.

Ketika di sore hari engkau senantiasa mengingatkan kami untuk pergi mengaji, ketika engkau menguraikan harapan-harapanmu pada kami anak-anakmu yang sedang engkau didik dan engkau besarkan dalam naungan cintaNya, ketika engkau mengharapakan agar dirumah kita yang hampir roboh itu bisa kita dirikan shalat berjama’ah dengan kami anakmu sebagai imamnya, ketika dengan penuh harap engkau bercita-cita agar suatu saat kita mampu membeli sepetak tanah masa depan yang akan kita tempati bersama karena tidak mungkin kita akan terus menempati pojok tanah pinjaman orang lain.

Ibunda, aku juga teringat ketika engkau tersenyum bahagia menyaksikan kami anak-anakmu menjadi juara kelas di sekolah dan TPA.

“Mak, loen rindu keu droeneh!”, begitulah jeritan hatiku tatkala suatu ketika di keheningan malam yang syahdu mataku tak mampu terpejam karena hadirnya rasa kerinduan yang amat sangat kepada seorang wanita yang telah melahirkanku, kepada seorang yang telah membesarkanku dengan perjuangannya yang amat berat. Saat itu, ku ambil sebuah pena dan secarik kertas kucoba menulis secuil isi hatiku dalam sepucuk surat mengenang jasa-jasanya yang tiada tara banyaknya.

Aku masih ingat pesan dan harapanmu dulu, biarpun kondisi keluarga kita hancur-hancuran tapi engkau tetap menginginkan kami menjadi anak-anak yang alim/shalih, berpendidikan tinggi dan berhasil dunia akhirat, meski saat itu Ayah jarang pulang karena mencari rizki di belantara hutan Ilahi, meski saat itu kita jarang makan, atau kadangkala kita harus menghidupkan ’suwa’ untuk menerangi rumah kita yang tanpa listrik itu. Meski kondisi kita melarat sebagaimana kebanyakan masyarakat Aceh pedalaman lainnya.

Tapi, aku tak menyangka engkau begitu bersemangat menyekolahkan kami, meski kadang kami menangis karena dengan terpaksa harus memakai baju sekolah yang sudah lusuh atau pemberian orang, tapi engkau tak pernah putus asa dalam menyemai benih cinta dan harapan dijiwa kami.

Ibunda, masih kuingat tatkala dipagi hari selepas shubuh engkau sudah bersiap-siap untuk berbelanja keperluan jualan pecal dan kue, pekerjaan yang telah engkau geluti bertahun-tahun sampai kami menginjak remaja, aku terpana seolah engkau tidak pernah kelelahan dalam membesarkan dan mendidik kami, kadangkala engkau ajak aku untuk ikut ke pasar, disana kulihat engkau berbelanja sambil bercengkerama dengan Nyak-nyak meukat gule di pasar Panton Labu hingga pasar Matangkuli tempat engkau berbelanja saat ini setelah kita pulang dari perantauan.

Ohya ibunda, dulu ananda pernah bercerita kan tentang cita-cita yang ingin ananda raih?, disamping ingin membahagiakan dan mewujudkan harapanmu ananda juga ingin sekali menjadi penulis, karena ananda yakin banyak perubahan berawal dari sebuah karya tulis. Ananda teringat Novel Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih yang sanggup membius ribuan orang dengan pesan-pesan Islam, ananda juga mengagumi para penulis artikel di media cetak dengan ide-idenya yang sangat brilian dan cemerlang, sekaliber Ampuh Devayan, Muhibuddin Hanafiah, Jarjani Usman yang namanya telah ananda kenal semenjak di bangku SLTP dulu, begitu juga Rustam Effendi, Halim Mubary, Ahmad Humam Hamid, Sulaiman Tripa, Saifuddin Bantasyam, dan juga banyak yang lain yang terus memberikan sumbangsihnya untuk masyarakat kita. Ananda berhasrat kelak bisa bergabung dengan mereka untuk secara aktif memberikan ide-ide yang telah engkau semai dahulu.

Untuk itu wahai ibunda, ikhlaskan ananda pergi meninggalkanmu menuntu ilmu untuk sementara waktu, meski terus dihimpit kesulitan ekonomi tapi aku yakin dengan sabda Rasul kita Muhammad Saw yang sering engkau ingatkan dahulu, ’Barangsiapa siapa menempuh jalan untuk menuntu ilmu maka ia telah merintis salah satu jalan ke syurga’, aku juga ingat firman Allah seperti diajarkan Teungku di Dayah, ’Siapa saja yang bertakwa kepadaNya maka Dia akan memberikannya jalan keluar’.

Ibunda, saat ini ketika perjalanan hidup yang kujalani penuh dengan onak dan duri aku-pun mulai menyadari siapa dirimu sebenarnya, bagaimana besarnya jasa-jasamu. Bagiku engkau laksana wanita terbaik yang akan selalu ku kenang sepanjang masa dalam hidupku, aku tak akan pernah melupakanmu, aku akan selalu mendo’akanmu.

Insya Allah kelak aku akan mewujudkan semua harapanmu. Dan do’amu adalah senjata bagiku wahai Ibunda…..

sumber : http://hadis-islam.blogspot.com/2010/03/mengenang-jasa-ibunda.html

biar gak jadi remaja cengeng

Oleh : Dani Ardiansyah

Dulu waktu kita masih kecil, hal yang paling sering kita lakukan adalah menangis. Bahkan, ketika pertama kali kita dilahirkan sebagai anak manusia pun, tangisan adalah hal pertama yang bisa kita lakukan, selain bikin repot Bunda dan seisi dunia. Sedikit-sedikit nangis. Perut lapar, nangis. Pengin minum, nangis. Ngantuk, nangis. Padahal kan tinggal merem aja. BT, nangis. Pipis, nangis. Duuuh, capeee deeeh.

Ternyata tanpa kita sadari, kita sudah sangat akrab dengan yang namanya tangisan dan air mata. Setelah kita beranjak dewasa, baik secara fisik maupun kejiwaan, kegiatan menangis sudah dapat kita kendalikan. Kalau perut kita lapar, kita tak lagi menangis. Ketika kebelet ingin buang air, juga tidak lagi menangis. Waktu bangun tidur, tak ada lagi tangisan. Kegiatan ini sudah dapat kita kontrol dengan baik. Hanya pada kondisi-kondisi tertentu saja kita menangis, terutama pada situasi kondisi kejiwaan yang mempengaruhi emosi.

Menangis adalah reaksi alami, yang terjadi akibat berbagai rangsangan internal maupun eksternal. Bila kita kaji lebih jauh, ternyata memang banyak sekali faktor-faktor yang menyebabkan tangisan. Nah dari faktor-faktor yang menyebabkan tangisan itu, maka muncullah berbagai macam istilah tangisan yang didasarkan pada penyebabnya. Ada beberapa jenis tangisan yang bisa kita kenali, di antaranya adalah:

1. Airmata kerinduan (Syauq)
2. Airmata cinta (‘isyq)
3. Airmata perpisahan (firaq)
4. Airmata penantian (intizhar)
5. Air mata kesedihan (huzn)

Dan masih banyak lagi nama yang diberikan pada airmata yang ditimbulkan oleh banyak faktor pula. Ada satu ayat dalam Al-Quran, yang mengindikasikan tentang tangisan. Diantaranya adalah “dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasulullah, kamu lihat mata mereka mengucurkan airmata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui; seraya berkata; “ya Tuhan kami, kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Quran dan kenabian Muhammad saw.)” (QS. Al-Maidah:83).

Menangislah jika memang ada alasan

Jadi, selama ini, kalau kita sering nangis karena hal-hal yang justru ga perlu ditangisi, buat apa? Nonton telenovela bikin nangis. Ga penting banget kan? Nonton sinetron di TV juga nangis? Capee deeeh. Yang ada kita malah dehidrasi, kekurangan cairan tubuh. Hehehe. Nah setelah kita tahu jenis dan nama-nama air mata, yang disebabkan oleh banyak faktor tadi, sudah selayaknya kita bisa menggunakan fasilitas yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita dengan sebagaimana mestinya. Masih banyak hal yang justru memang mengharuskan kita menangis, malah kita sikapi dengan cuek beibeh.

Contoh kecil, ketika kita berhadapan dengan kondisi sosial yang mengharukan, seperti kehidupan anak-anak jalanan yang sering kita lihat disekitar kita, pengemis yang menggelandang, pengamen jalanan yang berusia seperti adik kita di rumah, ibu-ibu renta yang berjuang di antara tumpukan sampah. Sepertinya hal tersebut justru luput dari perhatian kita. Nah sudah saatnya kita menangis untuk sesuatu yang beralsan. Menangis untuk sesuatu yang memang perlu kita tangisi. Menangis untuk sesuatu yang bermanfaat. Menangis sebagai manifestasi dari rasa syukur kita pada-Nya, atas nikmat yang kita rasakan dan belum bisa dirasakan oleh orang-orang yang kurang beruntung tadi.

Semoga, setiap tetes airmata yang mengalir dari mata kita, mejadi saksi atas kebesaran-Nya, bukan lagi hanya kegiatan alami yang menjadi sia-sia. Menangislah jika memang ada alasan dan tersenyumlah saat kita mendapat kebahagiaan. Karena tangisan bukan selalu berarti bahwa kita cengeng.

Jakarta, 26 July 2007
Sumber: Buku (menangislah Jika Memang Ada Alasan-Muhammad Ibrahim Siraj)

http://www.edumuslim.org

..:: sebatang pohon ::..

Dalam sebuah perjalanan seorang ayah dengan puteranya, sebatang pohon kayu nan tinggi ternyata menjadi hal yang menarik untuk mereka simak. Keduanya pun berhenti di bawah rindangnya pohon tersebut.

“Anakku,” ucap sang ayah tiba-tiba. Anak usia belasan tahun ini pun menatap lekat ayahnya. Dengan sapaan seperti itu, sang anak paham kalau ayahnya akan mengucapkan sesuatu yang serius.

“Adakah pelajaran yang bisa kau sampaikan dari sebuah pohon?” lanjut sang ayah sambil tangan kanannya meraih batang pohon di dekatnya.

“Menurutku, pohon bisa jadi tempat berteduh yang nyaman, penyimpan air yang bersih dari kotoran, dan penyeimbang kesejukan udara,” jawab sang anak sambil matanya menanti sebuah kepastian.

“Bagus,” jawab spontan sang ayah. “Tapi, ada hal lain yang menarik untuk kita simak dari sebuah pohon,” tambah sang ayah sambil tiba-tiba wajahnya mendongak ke ujung dahan yang paling atas.

“Perhatikan ujung pepohonan yang kamu lihat. Semuanya tegak lurus ke arah yang sama. Walaupun ia berada di tanah yang miring, pohon akan memaksa dirinya untuk tetap lurus menatap cahaya,” jelas sang ayah.

“Anakku,” ucap sang ayah sambil tiba-tiba tangan kanannya meraih punggung puteranya. “Jadikan dirimu seperti pohon, walau keadaan apa pun, tetap lurus mengikuti cahaya kebenaran,” ungkap sang ayah begitu berkesan.
**

Keadaan tanah kehidupan yang kita pijak saat ini, kadang tidak berada pada hamparan luas nan datar. Selalu saja ada keadaan tidak seperti yang kita inginkan. Ada tebing nan curam, ada tanjakan yang melelahkan, ada turunan landai yang melenakan, dan ada lubang-lubang yang muncul di luar dugaan.

Pepohonan, seperti yang diucapkan sang ayah kepada puteranya, selalu memposisikan diri pada kekokohan untuk selalu tegak lurus mengikuti sumber cahaya kebenaran. Walaupun berada di tebing ancaman, tanjakan hambatan, turunan godaan, dan lubang jebakan.(muhammadnuh@eramuslim.com)

“Jadikan dirimu seperti pohon, walau keadaan apa pun, tetap lurus mengikuti cahaya kebenaran.”

Jangan Pernah Membiarkan Orang Lain Mencuri Impian Terbesarmu

Kisah seorang anak laki-laki bernama MONTY

Pada suatu ketika, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Monty. Ayahnya hanyalah seorang pelatih kuda miskinyg kerjanya melatih kuda-kuda di tiap peternakan. Agar dapat mencukupi keperluan keluarga, ayahnya berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari satu peternakan ke peternakan lainnya. Sehingga ini mengakibatkan sang anak, si Monty, juga sering berpindah-pindah mengikuti pekerjaan ayahnya.

Singkat cerita, ketika Monty sekolah, dia mendapat tugas dari guru gambarnya di sekolah untuk membuat suatu karangan mengenai apa yang dia inginkan. Kemudian pada malam harinya, dia pun mengerjakantugas karangannya itu menjadi tujuh halaman. Monty membuat karangan yang sangat terperinci mengenai peternakan kuda. Sehingga hal itu sangat menakjubkan untuk anak seusia dia.

Monty beralasan kalau impiannya itu terobsesi oleh sang ayah yang menajdi pelatih kuda. Dalam kisahnya, Monty sangat ingin memiliki peternakan kuda seluas 200 hektar yang disana terdapat rumah seluas 4000 m2. Pada tengah-tengah peternakan kuda tersebut, terdapat trek lintasan kuda tempat area bertanding. Selain itu, ada juga kandang kuda serta rumahnya yang digambar dengan jelas dan detail tanpa terlewatkan satu hal sekecil apapun.

Keesokan harinya, Monty menyerahkan hasil karangan tersebut kepada gurunya. Dua hari kemudian semua karangan dikembalikan oleh sang guru kepada semua murid. Namun, Monty sangat kecewa setelah melihat hasil nilai karangannya. Ya, Monty mendapatkan nilai F !! serta terdapat sebuah catatan dari gurunya. “Mohon bertemu saya setelah kelas selesai.”. Demikian catatan yang terdapat pada karangan Monty.

Pada saat itu hanya Monty yang mendapatkan nilai F di kelas. Ketika bertemu gurunya, Monty langsung protes dengan nilai yang didapatnya. Tapi, justru sang guru yang balik menyalahkan Monty. Guru berkata, “semua impian dalam karanganmu itu tidak masuk akal. Semuanya terlalu besar untuk anak seusia kamu. Lagipula kamu hanyalah seorang anak dari pelatih kuda yang miskin. Mana mungkin bisa mewujudkan itu semua? Impianmu itu memerlukan biaya yang sangat besar, kamu juga tidak memiliki latar belakang, bahkan sekarang pun kamu tidak menyiapkan sedikitpun untuk membangunnya. Mana mungkin itu semua bisa terjadi? Impossible! “.

Guru Monty kembali meneruskan pembicaraannya, “Monty, kamu saya brikan kesempatan untuk memperbaiki karanganmu ini. Apabila kamu membuat sesuatu yang lebih mausk akal, nilaimu akan saya ubah, Monty…”. Kemudian Monty pulang dna berpikir apakah dia ahrus mengubah semua karangannya. Karena pembicaraan dengan sang guru telah benar-benar membuat dia putus harapan untuk memiliki impian sebagaimana yang tergambar pada karangannya.

Monty pun kemudian bertanya kepada sang ayah dan emnceritakan semua kejadian siang tadi. Sang ayah dengan bijaksana hanay berkata, “Monty, itu semua terserah kamu. Karena ini semua menyangkut masa depanmu, hanya engkau sendirilah yang bisa menentukan arah jalan hidupmu.”

Singkat cerita, setelah satu minggu berlalu, akhirnya Monty mengumpulkan karangannya tanpa mengubah sedikitpun gambarnya. Monty kecil hanya menulis, “guru, engkau boleh menyimpan nilai F tersebut, tapi aku akan tetap menyimpan impian ini.”. monty tidak peduli dengan apa yang telah dikatakan oleh gurunya itu sebelumnya.

Setelah puluhan tahun berlalu, kini Monty kecil sudah menjadi besar. Dia bercerita kepada teman-temannya, “Saya bercerita seperti ini kepada kalian karena guru saya tersebut duduk di lahan peternakan kuda saya seluas 200 hektar dan masuk ke dalam rumah saya seluas 4000 m2.”

Hingga saat itu, Monty masih menyimpan karangannya bahkan membingkainya dan tetap bertuliskan F untuk nilainya. Dua musim panas yang lalu, guru yang memberinya nilai F tersebut datang kepada Monty bersama 30 anak kecil lainnya untuk melihat peternakan kuda Monty.
Photobucket