Photobucket

♥ jangan banyak bicara di facebook ya... ♥

Sifat lalai terkadang menyergap jiwa -jiwa yang lemah...

dan ilmu itu akan lenyap jika tidak mengulangnya,

baiklah...semoga bisa di ambil manfaatnya dari catatan kecil berikut,..


Jawaban dari Abu Achmed Abdillah Al Atsary

Tanya : Bagaimana seharusnya kita bersikap jika keakraban telah ada namun di FB kita tidak jarang sekali berbicara?


Saya sarankan ukhti untuk tidak banyak menyibukkan diri dengan facebook, tidak harus seseorang itu mengunjungi FB teman dan membaca status mereka, bergaul itu tidak harus dengan cara seperti ini, FB hanyalah sebuah mesin bukan manusia, masih ingat nasihat salafus shalih Al Imam Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah :

“Saya lihat jiwaku ini ramah bergaul dengan mereka yang dinamakan teman maka saya cari dari pengalaman ternyata kebanyakan mereka adalah orang-orang yang iri (dengki) terhadap nikmat (kebahagiaan) temannya dan mereka tidak menyembunyikan kekeliruan (zallah) temannya dan senang mengabaikan hak teman duduknya juga tidak mau membantu temannya dengan harta mereka maka sebab itu (ketika) saya perhatikan perkara ini ternyata kebanyakan teman itu iri (dengki) dengan kenikmatan orang lain. Padahal Al Haq (Allah) Yang Maha Suci sangat cemburu kepada hati seorang Mukmin yang cenderung jinak dengan sesuatu (selain Allah) maka Ia keruhkan dunia dan penghuninya agar si Mukmin hanya menyenangi- Nya (jinak kepada Allah).

Maka sepantasnya kamu menganggap semua makhluk itu sebagai kenalan dan jangan kamu tampakkan rahasiamu kepada mereka. Jangan kamu anggap sahabat orang yang tidak cocok untuk digauli tetapi pergaulilah mereka secara zhahir.

Jangan bercampur dengan mereka kecuali dalam keadaan darurat dan itupun sejenak saja kemudian tinggalkanlah mereka. Setelah itu hadapilah urusanmu sambil berserah diri kepada Penciptamu (Allah) sebab sesungguhnya tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan selain Allah dan tidak ada yang dapat menolak kejelekan kecuali Dia.” (Al I’tisham 1/158)

Perhatikan tulisan yang saya bold (cetak tebal). Tadi ukhti katakan iri ketika melihat mereka bisa bercanda bersama, terbukti kan apa kata Al Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah, kebanyakan mereka adalah orang-orang yang iri (dengki) terhadap nikmat (kebahagiaan) temannya. Kemudian apakah ukhti bergaul dengan mereka di FB merupakan bentuk pergaulan secara zhahir? Padahal Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah berkata pergaulilah mereka secara zhahir. Artinya bergaullah dengan mereka secara nyata, bukan pergaulan didunia maya. Sebenarnya tidak ada yang melarang, hanya saja janganlah ukhti berlebih-lebihan dalam bergaul di dunia maya. Dalam kaidah beliau selanjutnya; Jangan bercampur dengan mereka kecuali dalam keadaan darurat dan itupun sejenak saja kemudian tinggalkanlah mereka. Kaidah ini menerangkan bahwa kebanyakkan teman itu iri dengan nikmat temannya, kadang tidak dapat menjaga mulut (perkataannya), maka kata beliau tidak boleh seseorang itu duduk-duduk (berkumpul-kumpul) dengan teman kecuali bila ada keperluan dengan mereka. Misal bertanya tentang sesuatu, atau mengajarkan ilmu kepada mereka.

Berikut saya transkipkan nasihat ulama untuk pengguna FB:

Nasihat Al-Ustadz Abdul Mu'thi:
Teknologi itu ibarat pisau bermata dua, bisa menjadi tambahan kebaikkan, bisa menjadi tambahan keburukkan. Kalau kita manfaatkan dalam perkara yang diridhoi dan dicintai oleh Allah maka dia akan menjadi kebaikkan yang lebih, tapi kalau kita tidak pandai menggunakannya maka dia akan menyembelih kita. Sehingga dalam segala sesuatu yang bermata dua seperti ini ibarat pisau bermata dua maka kita harus berhati-hati dalam menggunakannya. Semua ini kembali kepada diri kita masing-masing untuk bertakwa kepada Allah jalla wa'ala. Kata Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Bertakwalah kepada Allah dimana saja engkau berada." Kemudian kalau kita mengetahui bahwa diri kita adalah lemah, jangan kita bermain-main dengan pisau yang bermata dua karena kemungkinan dia menyembelih kita lebih besar daripada kita bisa menggunakannya dengan baik.

Dan memang saya tidak menyarankan untuk ikhwan menyibukkan diri dengan yang namanya internet atau secara yang lebih spesifik apa yang namanya FB, karena memang medianya bukan untuk salafiyin pada asalnya. Media yang diadakan oleh mereka itu memang untuk memfasilitasi, memudahkan kegiatan-kegiatan, arena-arena mereka melakukan maksiat kepada Allah jalla wa'ala yang mereka anggap baik padahal maksiat. Sebagai contoh minimalnya saja: Dengan FB itu pemiliknya tidak jarang melihat foto-foto wanita yang bukan mahramnya, itu minimal dan banyak lagi yang lainnya. Sehingga ya semua kembali kepada kita, barang siapa yang bertakwa kepada Allah, memiliki sifat wara' dia akan meninggalkan perkara-perkara yang samar apalagi perkara-perkara yang jelas haram.

Dan barang siapa yang bisa menjaga diri dari perkara syubhat dia telah menjaga kehormatan dirinya dan agamanya. Sehingga kita jangan bermain-main dengan sesuatu yang samar yang kita tidak ampu untuk mengendalikannya. Apalagi jelas-jelas akan menjatuhkan kita kepada yang haram dan media internet secara umum adalah media yang penuh dengan keburukkan. KAlau kita ingin kalkulasi antara kebaikannya dengan keburukannya, bisa dikatakan dia itu seperti khomr, kemudharotannya lebih banyak daripada kemanfaatannya. Berapa banyak keburukkan yang ada didalamnya? Kalau kita bandingkan dengan kebaikan yang ada hanya sekian persen didalamnya. Sehingga kalau kita menyibukkan diri mulai dari bangun tidur langsung online sampai dia mau memejamkan mata baru dia selesai dari kegiatan onlinenya, ini manusia macam apa.

Seseorang yang mengerti akan kebaikkan dia tidak akan menghabiskan waktu dan dirinya didepan internet yang penuh dengan keburukkan. Dan benar-benar internet ini adalah ujian bagi kita yang menggunakannya, karena sedikit saja terpeleset langsung jatuh kepada media yang maksiat. Bahkan tatkala kita menggunakannya walaupun ingin yang baik mau tidak mau kadang dipaksa kepada yang maksiat, kadang muncul gambar-gambar yang tidak baik, padahal kita tidak mengaksesnya. Oleh karena itu sibukan diri kita dengan ilmu yang syar'i, dengan kegiatan yang lebih bermanfaat membaca buku, baca qur'an.

Banyak hal-hal yang bermanfaat daripada kita menghabiskan waktu didepan internet. Bolehlah sekali-kali mengakses internet yakni saat-saat yamg memang membutuhkan berita-berita yang sangat penting. Upayakan sedapat mungkin mengurangi kegiatan ini, sebab ini tidak akan membawa kebaikkan kepada kita, biar saja orang lain bilang gapteklah, kuno ketinggalan zaman, inilah itulah, sebab celaan dan cercan manusia itu tidak akan membahayakan kepada kita, na'am yang tahu akan kebaikan itu adalah diri kita sendiri terhadap diri kita, bukan mereka. Barakallahu fiikum...

Semoga jawaban yang sedikit ini bisa kita pahami dengan hati yang ikhlas hanya mengharap wajah Allah Subhanallahu wa Ta'ala


( source: fb)

artikel : disini

♥ Bagaimana Asy-Syaikh Muqbil Mendidik Putri Beliau? ♥

Oleh : Ummu `Abdillâh bintu Asy-Syaikh Muqbil bin Hâdî Al-Wâdi`î

Pernah membaca buku Nasehati lin Nisa? Buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Nasehatku bagi Para Wanita ini ditulis oleh seorang aalimah (ulama wanita) dari negeri Yaman yang bernama Ummu Abdillah Al-Wadi’iyah. Beliau hafizhahallah adalah putri dari ulama ahlul hadits di masa kita, yaitu Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah.

Ummu Abdillah adalah seorang aalimah yang memiliki banyak keutamaan. Menurut Al-Ustadz Muhammad Barmim dalam biografi Syaikh Muqbil, Ummu Abdillah mengajar di madrasah nisa’ (khusus wanita) dan memiliki beragam karya tulis ilmiyah. Di antaranya:

- Shahihul Musnad fis Syamail Muhammadiyah (tentang kesempurnaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dicetak dalam dua jilid) - Jamius Shahih fi ilmi wa Fadhlihi (tentang keutamaan ilmu) - Tahqiq kitab As-Sunnah Ibnu Abi Ashim - Nasehati lin Nisa - dan sekarang beliau masih mengerjakan Shahihul Musnad min Sirah Nabawiyah

Yang ingin saya angkat dalam artikel ini adalah bagaimana cara Syaikh mendidik putrinya sehingga tumbuh menjadi seorang aalimah. Tema ini mungkin jarang diangkat karena biasanya yang dipersiapkan sebagai seorang alim atau ulama adalah anak laki-laki saja. Pernahkah kita bercita-cita putri kita menjadi seorang aalimah? Kalau memang ada keinginan tersebut, mungkin kita bisa bercermin terlebih dahulu dengan metodologi Asy-Syaikh dalam mendidik putrinya.

Ummu Abdillah berkisah tentang bagaimana ayahanda beliau -Syaikh Muqbil- mendidik putri-putrinya,

… Ayahanda tidak pernah menyia-nyiakan kami, betapa pun sibuknya beliau. Oleh karena itulah beliau sangat perhatian terhadap kami dalam mempelajari Al-Quran. Beliau selalu menuntun kami dalam membaca Al-Quran. Kadang beliau rekam agar hapalan kami semakin kokoh. Suatu ketika saudari saya menghapal, dan ayahanda sedang berada di perpustakaan. Saudariku tadi mencari beliau, ingin direkamkan hapalannya. Beliau pun meninggalkan risetnya, merekam hapalan saudariku lalu kembali lagi ke perpustakaan.

Begitu kami mengetahui qiraah yang baik, beliau membeli kaset qiraah Syaikh Al-Husari untuk kami. Beliau juga membelikan untuk masing-masing putrinya satu tape recorder tanpa radio. Ini bentuk penjagaan beliau agar kami tidak mendengar nyanyian.

Setelah kami mengerti lebih banyak, kami dibelikan masing-masing sebuah tape recorder dengan radionya, namun beliau tetap memperingatkan kami terhadap nyanyian dengan keras. Dan alhamdulillah, kami menerima peringatan tersebut. Kami tidak mendengarkan nyanyian sama sekali, seiring dengan rasa tidak senang terhadap nyanyian.

Dalam menghapal, beliau memerintahkan kami untuk hanya menggunakan satu mushaf dari satu penerbit karena itu akan membantu memperkokoh hapalan. Kalau beliau melihat di tangan kami ada mushaf yang berbeda, beliau akan memberi peringatan keras dan sangat marah.

Di antara murid beliau ada orang-orang Sudan dan Mesir yang datang beserta istri-istrinya. Di antara istri-istri mereka ada yang mengajar kami dengan diberi imbalan jasa oleh ayah sebagai bentuk perhatian beliau terhadap pendidikan. Dan apabila di buku-buku yang dipergunakan oleh para guru wanita tersebut ada gambar makhluk bernyawanya, beliau memerintahkan kami untuk menghapusnya. Kami pun menghapus gambar-gambar tersebut disertai dengan kebencian yang sangat terhadap gambar-gambar itu.

Lalu setelah itu kami pun diajari ilmu-ilmu syar’i Al Kitab dan As-Sunnah, sehingga kami pun menghafal bersama para guru tersebut dan kami pun hapal beberapa hadits walhamdulillah.

Beliau rahimahullah terkadang bersenang-senang dan bergurau bersama kami, dalam perkara yang diizinkan oleh Allah. Berbeda dengan kebanyakan kaum muslimin -kecuali yang dirahmati oleh Allah- yang bersenang-senang bersama anak-anak mereka dengan televisi, nyanyian, permainan-permainan gila, serta kerusakan lainnya. Padahal nabi kita bersabda, “Kamu sekalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang apa yang dipimpinnya.”

Beliau selalu melarang kami terlalu banyak keluar, dan beliau selalu mengharuskan kami untuk tidak keluar kecuali seizin beliau.

Ini apa yang dijalankan beliau semasa kami kecil.

Ada pun tentang pendidikan kami, beliau sangat ingin kami mendalami agama Allah dan mencari bekal ilmu syar’i. Sebab itulah, beliau mencurahkan kemampuan beliau untuk membantu kami menuntut ilmu dan membuat kami menggunakan kesempatan kami dengan sebaik-baiknya. Beliau selalu menyediakan waktu khusus untuk mendidik kami. Setiap hari kedua, beliau menanyakan pelajaran yang telah lalu. Jika pelajaran itu terlalu berat, maka beliau berikan dengan cara yang jauh lebih ringan.

Di antara pelajaran yang khusus kami pelajari di rumah adalah:

- Qatrun Nada sampai dua kali

- Syarh Ibnu Aqil sampai dua kali juga

- Tadribur Rawi - Mushilut Thullabi ila Qowaidil I’rab (namun tidak selesai karena beliau sakit)

Majelis beliau senantiasa penuh dengan kebaikan, diskusi, dan pengarahan, sampai pun di atas hidangan makan atau via telepon.

Ketika beliau di Saudi sebelum berangkat ke Jerman, ayahanda mengucapkan salam lewat telepon kepada saya, “Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh”. Saya menjawab tanpa mengucapkan, “Wabarakatuh”. Beliau bertanya (menegur), “Mengapa tidak engkau balas dengan yang lebih utama?” sebagai isyarat pengamalan ayat ke 86 dari surat An-Nisa.

Terkadang beliau sengaja salah memberikan pertanyaan untuk menguji pemahaman kami, sebagaimana itu beliau lakukan juga kepada murid laki-laki. Kadang beliau bertanya tentang soal yang cukup berat, untuk memberikan faedah namun disuguhkan dengan pertanyaan terlebih dahulu. Metode ini pun diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana di dalam hadits Muadz.

Kadang ketika kami menemui kesulitan dalam pelajaran atau riset kami, beliau memerintahkan kami untuk meneruskan riset tersebut, atau beliau mengikuti kami ke perpustakaan dan membantu kami. Inilah yang menyebabkan kami begitu berduka karena kehilangan beliau rahimahullah. Siapa yang akan memperhatikan kami sepeninggal ayahanda?

Beliau selalu mendidik dan mengarahkan kami dengan lemah lembut. Dan dengan karunia Allah, kami tidak terdorong sedikit pun untuk menentang beliau, karena semua itu adalah demi kemaslahatan dan keuntungan kami juga. Semuanya adalah mutiara yang diuntai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.

Di antara yang mengagumkan pada diri beliau adalah tidak pernah memaksakan kepada kami dalam perkara ijtihad kami yang memiliki sisi pandang lain. Kalau kami sudah memahami suatu masalah yang berbeda dengan pemahaman beliau maka beliau tidak memaksa kami, seperti juga kebiasaan beliau bersama murid-muridnya yang laki-laki. Beliau tidak pernah menekan mereka untuk memahami sesuatu yang masih perlu dipertimbangkan. Ini, sebagaimana para pembaca lihat, adalah kemuliaan yang sangat jarang ditemukan.

Beliau rahimahullah juga memperingatkan kami dari masyarakat, karena masyarakat kami adalah masyarakat yang rusak, bersegera dalam kesesatan dan hal-hal yang tidak berguna, kecuali yang dirahmati Allah.

Beliau juga memperingatkan kami dari sikap sombong. Beliau sangat benci kepada wanita yang sombong terhadap suaminya, beliau mengatakan, “Tidak ada kebaikan wanita yang seperti ini.”

Beliau mendorong kami untuk bersikap zuhud terhadap dunia yang rendah ini. Beliau bimbing kami untuk meniatkan apa yang kami makan dan minum untuk menguatkan kami dalam bertakwa, agar memperoleh pahala dari Allah. Beliau katakan, “Janganlah kamu sibukkan dirimu menyiapkan berbagai hidangan makanan. Apa yang mudah diolah, kita makan.”

Beliau bangkitkan semangat kami. Beliau bukan termasuk orang yang suka meruntuhkan semangat keluarga dan anak-anak perempuannya. Beliau membentuk kami dengan sebaik-baiknya, agar kami mudah dan bersemangat untuk bersungguh-sungguh dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat.

Di antara ucapan beliau kepada saya, “Saya berharap agar kamu menjadi wanita yang faqih.” Ya Allah, wujudkanlah harapan ayahanda, duhai Zat yang tidak diharap kecuali kepada-Nya, tempatkanlah beliau di surga firdaus yang tinggi.

(Diringkas dari buku “Secercah Nasehat dan Kehidupan Indah Ayahanda Al-Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i”, terbitan pustaka Al-Haura Jogjakarta).

Silakan dicopy dengan mencantumkan sumber www.ulamasunnah.wordpress.com

♥ pesan untuk wanita bercadar ♥

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...

 Alhamdulillah, tidak dapat terkira syukur untuk Rabbul izzati yang tidak pernah bosan menghidupkan hamba-Nya selepas terlena mati seketika, bagi hamba yang harus meneruskan perjuangan.. Disini ana repost semula artikel usai saja ana baca dari blog friendster seorang sahibah, yang dirasakan amat bermakna bagi mereka yang memerlukan hidayah Ilahi, insyaAllah..
 
Salam kemaafan ku hulurkan buatmu sahabatku gadis berniqab, andai kata coretanku selepas ini akan menghiris hatimu. Tiada yang dapat ku lafazkan lagi melainkan aku amat menyayangimu sahabatku karena kau sahabat seakidah di jalan dakwah juga karena kecekalan imanmu mempertahankan niqab sebagai pakaian yang melambangkan ketinggian peribadimu.
 
Sahabatku yang dirahmati Allah..
 
Sungguh aku amat bangga denganmu. Penampilanmu yang sopan membuat kau dihormati di mata masyarakat yang memahami tuntutan berpurdah.

 Tapi sahabatku..
 
Tiada manusia yang benar-benar sempurna melainkan junjungan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terkadang kita lupa, dan menjadi tanggungjawab seorang Muslim untuk saling mengingatkan saudaranya agar tidak terus hanyut.

Aku tidak menyalahkan dirimu karena niqab, sahabatku. Aku juga pernah lalai dan alhamdulillah, diri yang kerdil ini telah ditegur oleh seorang sahabat berhati mulia, yang tidak mau hati ini terus dimamah dosa, juga karena sayang terhadap agama. Diri ini terasa sangat malu apabila ditegur oleh seorang ikhwan yang tidak dikenal, tapi akhirnya diri ini memandang teguran itu sebagai satu kritikan yang membina. Jazakallah di atas teguranmu sahabat, semoga Allah sentiasa menjaga dan melindungimu.
 
Bukan sahabatku…

 Bukan karena niqab, tapi semuanya bertitik tolak dari diri kita sendiri.. Jauh dari lubuk hati kita yang paling dalam. Tanya imanmu sahabatku, apa tujuan kita berniqab? Sudah tentu untuk melindungi wajahmu dari pandangan mata yang bakal mengundang nafsu. Jadi, apa tujuanmu mepamerkan gambarmu yang berniqab di laman sosial ( frienderdmaster, myspace, facebook etc.)?

 Apakah untuk tujuan dakwah?

 Sahabatku…

 Matlamat tidak menghalalkan cara. Banyak lagi cara untuk kita meyampaikan dakwah tetapi bukan dengan cara ini. Biarpun memang ada hati yang insaf tatkala melihat dirimu yang tampak sopan menghijab diri, tapi dapatkah dipastikan bahwa mata yang melihat dirimu itu semuanya mata-mata muslimah? Apakah tiada mata-mata lelaki ajnabi yang memandangmu walaupun sudah lengkap terhijab dengan niqab?
 
Ya..
 
Mungkin ada yang berkata. “Ah! Tidak apa-apa lah. Muka dah tidak nampak. Semua dah bertutup. Takkan timbul nafsu juga…”
 
Dari Mata…
 
Tahukah kamu sahabatku yang disayangi…

 Lelaki itu tinggi imaginasinya. Walau hanya dengan melihat fotomu yang berniqab, tapi akal mereka masih mampu menerka setiap inci dirimu. Memang benar sahabatku. Melalui fotomu, dapat dilihat kurus atau berisinya dirimu, tinggi atau rendahnya, malah melalui sebagian kecil matamu yang kelihatan sudah cukup mampu menggambarkan kecantikan wajahmu, sahabatku.
 
Biar sehebat apapun iman seseorang lelaki itu, biar setinggi mana ilmu agama yang mereka pelajari, namun itu bukanlah jaminan sempurnanya kekuatan iman seseorang itu. Rambut saja sama hitam, tetapi hati lain-lain. Kita tidak dapat menduga apa yang ada di dalam hati mereka. Mata yang melihat sudah tentu akan mendorong akal untuk berfikir tentang foto perempuan berniqab yang dilihatnya. Akal yang berfikir sudah tentu akan didorong nafsu untuk membayangkan rupamu lebih jauh lagi. Mungkin bukan semua, tetapi itulah kemungkinan yang bakal terjadi andai kita tidak menjaga diri.
 
“ Zina mata dengan melihat, kedua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya bercakap, tangan zinanya berpegangan, kaki zinanya melangkah dan hati yang berhasrat, membayangi,dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR Bukhari). Rujukan:Kitab Riyadhus Solihin dalam Bab larangan melihat Wanita.

 ‘Mawar Berduri’ vs ‘Mawar yang Rugi’

 Sahabatku…
 
Andai kau merasakan dirimu mawar berduri, buktikan!!
 
Bukan dengan pembuktian dengan meng’upload’ foto wajahmu yang berniqab, melambangkan dirimu seolah-olah ‘mawar berduri’. Tetapi dengan cara menghentikan ‘upload’ fotomu itu. Engkau tidak rugi sahabatku. Malah engkaulah orang yang beruntung, karena dirimu terhindar dari pandangan mata ajnabi yang melihat, dan akal mereka yang berfikir. Dirimu juga terhindar dari dosa membiarkan ajnabi berfikir dan membayangi rupamu. Dan sekaligus menyelamatkan lelaki ajnabi dari dosa melihatmu dan membayangi rupamu. Juga engkau telah menyediakan dirimu suci-sesuci sucinya untuk seseorang yang lebih berhak lagi halal bagimu. Ingat sahabatku gadis berniqab, dirimu sudah menjadi maqam qudwah buat masyarakat di luar sana. Justeru itu, elakkan segala perkara yang bakal mengundang fitnah buat kita.
 
Wanita itu Fitnah
 
Sahabat yang ku sayangi fillah…

 Menjadi wanita itu sendiri adalah fitnah. Segala tindak tanduk kita, andai tidak dikawal dan dijaga, bakal meletakkan diri kita di dalam fitnah lebih-lebih lagi kepada muslimah pembawa agama. Ini bukan satu kekangan yang mengongkong kita, bukan juga satu diskriminasi buat kita, tetapi pandanglah ia sebagai satu penghormatan buat kita, muslimah pendukung agama. Mungkin bagimu, isu begini hanya satu perkara remeh, tetapi ingat para niqabi… Jika dibiarkan berlarutan, kesannya pasti akan mengundang mudarat yang lebih besar. Masyarakat di luar sana pasti akan berkata tentangmu. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Karena seorang dua di kalangan kita yang buat perangai, habis semua gadis berniqab yang akan terkena impasnya.

 Dan jangan sesekali salahkan lelaki itu jika mereka memulakan langkah untuk mengorat. Jika kita terus-terusan menyalahkan mereka, itu suatu perkara yang tidak adil. Sedangkan siapa yang membuka peluang untuk mereka kalau bukan kita? Kita sendirilah yang menyediakan diri untuk fitnah itu, sahabatku…
 
Sahabatku, teman seiman…


Maafkan diriku sekali lagi wahai sahabat. Aku tahu, aku bukanlah orang yang layak untuk menegur kalian, namun aku tidak sampai hati membiarkanmu terus-terusan begini, sedangkan aku sendiri sudah tahu dan perkara begini tidak layak terjadi pada diri kalian. Aku terpaksa berkata benar biarpun ia pahit. Aku tidak memaksa kalian untuk mengikut pendapatku, tetapi, jentiklah akalmu, tanya imanmu. Mati itu pasti cuma tidak pasti kapan terjadinya dan semoga penamat kehidupan ini disudahi dengan husnul khotimah. Juga aku tidak mau sendirian dalam mengejar ridha Ilahi, aku ingin kita bersama-sama dalam membetulkan diri. Biarlah kita bersama-sama saling melengkapi sahabatku. Sungguh aku amat mengerti, karena aku sebagian dari kamu semua.

 ===

Sebuah renungan untukku, untukmu, untuk kita semua.

Semoga kita tidak terhijab dari menerima hidayah dan taufiqNya.

Salam sesuci titis qatrunnada, buatmu gadis solehah, yang maharnya iman dan taqwa, lalu dihiasi tulusnya cinta. Buatmu puteri, ku doakan untaian mutiara solehah mengalungimu…

Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati yang terkunci....
 
Dari Sahabat

ليلي فجرية(Ummu Azhara Jinan) untuk Sahabat semua'na

 Barakallahufiikum.semoga bermanfaat

Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

--------------------------------


 === ✩ ❤ ✩ ✿ ✩ ❤ ✩ ✿ ✩ ❤ ✩ ===
 
Dipersilahkan bagi yang ingin share or copas, semuanya milik bersama
 
✿ Prinsip ABC ✿

 ✩ A mbil yang baik
 ✩ B uang yang buruk
 ✩ C iptakan yang baru

 Semoga bermanfaat

Keep Istiqomah wa HAMASAH


Behind the veil I am the queen
I have a body that nobody’s seen
Many people think I am oppressed
And wonder how I got myself into this mess

...My veil is my cure,And makes my heart pure
It earns me my love from Allah, my Lord,And makes me strong against any sword

Behind my beautiful veil lies My savior from the temptation of guys
Behind my veil I begin to say
This is where I shall forever stay!

I am strange, but sometimes strange is good, as the hadith goes,

“Islam began as something strange, and it shall return to being something strange,
so give glad tidings to the strangers.”

[Shahih Muslim]

♥ engkaulah mutiara dan bunga yang indah itu ♥

Bismillah
Apa kabar
,masihkah ia disana merunduk malu,apa kabar iman masihkah hari ini ia tetap tegar disana,dan apa kabar saudara dan saudariku semua.semoga Allah `azza wa jalla masih tetap meneguhkah kita di atas jalan yg lurus ,jalan nya pendahulu-pendahulu kita yang Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah `azza wa jalla.
Wahai,,,,saudariku engkau laksana
 yang begitu indah dan begitu harum,maka janganlah engkau membiarkan kumbang-kumbang itu menikmati harum dan keindahan mu dengan mudah.
Wahai,,,,,ukhty yang kucintai karena Allah engkau laksana mutiara,maka jadilah mutiara yang kemilaunya akan menyilaukan mata yang memandangnya,jadilah mutiara di tengah lautan yang paling dalam yang tidak akan mudah orang mengambildirimu.maka saudariku hiasilah dirimu dengan keimanan dan ketaqwaan.karena keimanan dan ketaqwaan ibarat duri yang akan melindungi bunga dari jangakau orang yag akan memetik nya,dan keimanan dan ketaqwaan ibarat kerak yg keras bagi mutiara ditengah lautan agar tidak mudah terbawa ombak yang tiba-tiba datang menggulung.
Wahai,,,ukhty,,,,
Aku cemburu bila ada orang memandangmu dengan tatapan yang .
penuh hasrat karena lekuk tubuhmu yang sengaja engkau umbar.
Duhaiiii ukhty ,,,,,,,,
Aku cemburu bila engkau keluar rumah dengan bau parfummu yang begitu menyengat menggoda hidung orang yang tidak halal bagimu untuk mencium nya,
Duhaiii ukhty,,,,,,,,,
Aku cemburu bila engkau dengan tanpa bersalah keluar bersama laki-laki yang bukan mahrammu,dan engkau bercanda dengan nya
Duhai ukhty aku begitu cemburu dengan semua itu,aku yang sebagai insan yang penuh dengan kelemahan ini merasakan kecemburuan itu apalagi Allah `azza wa jalla .
Ukhty ,,pernahkah engkau membaca atau mendengar kisah seorang sahabat Nabi sholallahu `alaihi wasalam yang hampir membunuh istri gara-gara istri keluar dari pintu rumahnya tanpa izin nya.tapi saat ini apa yang terjadi ,saudariku engkau begitu senang keluar rumahmu tanpa adanya keperluan .
Saudariku,aku tau engkau mampu membeli parfum bermerk dengan harga yang mahal,tapi tidakkah engkau ingat saudariku bahwa wanita yang keluar rumah dengan memakai wangi-wangian dan tercium oleh orang yang dijalanan sama saja berzina,dan bahkan Nabi sholallahu `alahi wasalam melarang wanita yang memakai parfum shalat berjama`ah di masjid Beliau sholallohu `alaihi wasalam.
Ukhty mungkin engkau bangga bisa keluar dengan laki-laki yang itu bukan apa-apamu,tapi ukhty tidakkah engkau ingat sabad Rosulullah shalallahu `alaihi wasalam ,bahwa apabila seorang wanita dan laki-laki berdua-duaan maka yang ketiganya syaitan.
Duhai ukhty dimanaka rasa ghirah(malu) kita.dimanakah letak keimanan yang engkau elu-elukan,dimanakah letak ketakwaan yang engkau banggakan.
Tidakkah kita ingat saudariku bahwa Malu merupakan salah satu sifat terpuji yang bisa mengendalikan orang yang memilikinya dari perbuatan-perbuatan yang tidak sepatutnya dilakukan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

“Rasa malu itu hanya mendatangkan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Imron bin Hushain)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ قَالَ أَوْ قَالَ الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ

Rasulullah bersabda, “Rasa malu adalah kebaikan seluruhnya atau rasa malu seluruhnya adalah kebaikan.” (HR. Muslim)
Duhai saudariku,disini harapan itu terucap jadilah engkau bunga seindah bunga kaktus yang di kelilingi duri –duri iman dan ketaqwaan sehingga tiadalah mudah untuk di petik.
Biarkn bunga itu indah disana sampai tiba waktunya ada tangan-tangan yang berhaq untuk memitik dan menjaga pohon nya.
Duhai ukhty jadilah bunga yang menyebarkan aroma wangi dengan ilmu dan kesolehanmu.

Ibarat mawar cantik penuh duri,kita memiliki sifat yang bisa membahayakan , sehingga jaga baik-baik kecantikan yang telah di anugerahkan Allah kepadamu,
tak perlu pula kagum,terhadap fisik kita,hingga tinggal ujub,bangga dan takjub pada diri sendiri. hilangkanlah perasaan itu,hindarkan agar duri tak menusuk keindahan bunga kita dan mengoyak kelopaknya,,

tak perlu ...kecantikanmu engkau jadikan modal untuk menarik simpati lawan jenismu, jangan lah berbangga ketika banyak laki-laki yang menggodamu lantaran terpikat pesona kecantikan, kerna semua itu tidak lain adalah awal petaka bagimu,

inilah yang sering disebut , menebar pesona ,menuai petaka,

Na'udzubillah tsumma na'udzubillah.

" tak perlu secantik mawar, cukup seharum melati"

just be a hidden pearl, yeah...a hidden pearl , a hidden pearl ,in the deepest ocean
.
Semoga kutipan ini bisa mnjadikan manfaat bagi diri ana sendiri khususnya dan saudariku semua umumnya,bila ada kesalahan mohon di betulkan ya saudara//saudariku

Wallahu a’lam. Subahanaka allahumma wa bihamdika asyhadu alla ila hailla anta astaghfiruka wa atuubu ilaika. . 


sumber : disini
Photobucket